Hai, lama juga blog ini akhirnya terisi lagi. Padahal dulu semua kegalauan kucurahkan disini, sekarang nulis lagi cuma sekedar biar gak ganggu orang di timeline manapun, dan bisa lebih panjang dan bebas juga ngomongnya.
Sesuai judulnya, tulisan ini dibuat di tanggal 27 Juli ini, bertepatan dengan 2 tahun usia hubungan pernikahan kami, atau 12 tahun kalau dihitung sejak jaman pacaran. Dan for your information netizen, 2 tahun dari sekarang, pas di usia ke 28, maka udah 14 tahun kami telah bersama alias separuh hidupku dijalani dengan orang yang sama, istriku Ludy Claudia Hawa Saputri. Semoga masih ada umur panjang dan kesempatan untuk bisa merayakan dan melewati satu persatu "achievement" kami ke depan. Karena sebenarnya ini perjalanan panjang, dan sejak menikah sudah kami restart lagi semuanya. Semua kembali ke titik awal lagi, kembali mengenal diri masing masing lagi dengan cara berbeda, dan tentunya semua tahun yang akan kami lewati nantinya akan selalu menjadi pondasi bagi keluarga kecil ini, yang nantinya akan tumbuh, bertambah dan berkembang. aamiin.
Kali ini aku menulis dengan kondisi jauh dari istriku, ya, keadaan yang memaksa demikian, it's okay, gak sekali dua kali kami mengalaminya. 2013-2019 kami terpisah jarak, dan alhamdulilah kami bertahan, dalam pasang surut, dalam suka duka, dan setiap pertemuan yang berharga itu -yang terasa singkat- selalu mengingatkanku: aku butuh wanita ini, butuh selalu berada di sisinya, butuh mengobrol, tertawa, menangis, semua hanya berdua. Itulah salah satu alasanku akhirnya mantap untuk memilih meminangnya dan menikah 2 tahun lalu. Semoga tulisan ini setidaknya terbaca dan bisa mengobati rindu kami, walau sedikit, walau mungkin berbeda nilainya jika dibandingkan pertemuan itu sendiri. Sekarang ijinkan aku sementara mengesampingkan dulu perkara LDR atau LDM ini, menulis dengan disertai rindu hanya akan membuatku berhenti di tengah paragraf hanya untuk menghela nafas berat dan menatap kosong layar laptop ini. Speechless dan kosong. Anggaplah ini seperti obrolan lepas sebelum kita tidur seperti biasanya, disaat aku curhat betapa capeknya kerjaku, betapa kesal aku pada orang orang disekitarku, atau betapa bahagianya pengalaman yang ku dapat hari itu, anggaplah seperti itu.
27 Juli
Istriku, Ludy Claudia Hawa Saputri.
Hehe istri kataku 😄 kita masih malu malu gak sih sekarang mendengar kata ini, setengah gak percaya kita ada di tahap ini sekarang, rasanya baru kemarin kita bertemu di depan pagar SMA 2 itu, kamu menyapaku yang canggung dan gak ada keberanian buat menyapa duluan, menanyakan apa aku pulang sendirian. Ya nggak lah sayang, aku yang cupu waktu itu sebenarnya mau mengajakmu pulang, karena bisa jadi di hari itulah mungkin apa yang kurasakan sebagai rasa suka itu mulai muncul. Kelak diriku di masa itu gak akan menyesali keputusanku setelahnya, yang aku pikirkan sembari berjalan denganmu, termasuk ketika menatapmu di kelas, di paskibra, di kantin sekolah, atau di tiap kesempatan ketika mataku mengenali ada dirimu disana.
"12 tahun dari waktu itu terasa cepat", ah, sekarang aja kita bisa merasa seperti itu ya kan? 😌 Kalau bicara dari momen yang ada, terasa pelan ketika jaman SMA, seperti tiap hari di sekolah ada kisahnya sendiri, dan kita menikmati itu, baik ketika perjalanan kaki di gang garuda yang kadang terasa sangat singkat dihabiskan dengan mengobrol saja, hingga di 11 km perjalanan dari sekolah ke rumahmu ketika akhirnya bisa mengantarmu pulang dengan motor pinjaman dari bapak. setiap hari kita mulai mengenal diri kita masing masing dan pasangan kita, belajar dari hal yang benar benar basic, sampai akhirnya kita merasa sudah tahu satu sama lain. Apakah setelah menikah kita sudah tahu semuanya? Nggak juga ya kan? 😂 Kita seperti balik ke masa itu lagi, embel embel pacaran 10 tahun seakan cuma hitungan angka, kamu baru tau aku yang biasanya jaim ini bisa jadi seperti apa -keep it secret, just for us, okay? 😉 Hihi, aku merasa kita ini lucu, semua orang mengira kita udah terbiasa karena 10 tahun pacaran, ternyata waktu akad pun masih semalu dan secanggung itu menatap satu sama lain, berfoto berdua di depan fotografer untuk koleksi foto pernikahan pun macam anak 15 tahunan yang baru mengenal namanya pacaran, aku yang tegang ketika berjalan ke atas koade pernikahan kita waktu itu, bisa sedikit cair dan rileks karena tanganmu yang menggenggam ku, yang berjalan di sisiku. Istriku, dari situlah aku merasa bersyukur, karena Allah masih memberi kita nikmatnya pernikahan itu sendiri, sesuatu yang dulu sempat kutakutkan akan terasa biasa saja karena merasa sudah lama bersama, ternyata diberi kesempatan untuk mengenalmu lagi dari awal, dan merasakan rasa cinta itu sedikit sedikit lagi. Sesuatu yang berharga lebih enak jika dinikmati pelan pelan kan?
Istriku, akhirnya setelah hubungan ini resmi berganti dari status pacaran ke menikah -omg it's real 😆- dari yang tadinya cuma sekedar status karangan "anak anak" di Facebook, jadi tercantum secara resmi di buku nikah, di kartu keluarga, kita berdua berada di satu KK, artinya kita gak lagi menjalin hubungan sederhana yang hanya berpikir "besok jalan jalan berdua kemana? besok makan berdua dimana? besok sekolah pulang jam berapa?" Semua akhirnya menjadi kompleks, karena keluarga kecil kita terhubung juga dengan keluarga besar masing masing, juga terhubung dengan keluarga keluarga kecil lain di sekitar kita. Dan tanggung jawabku, yang kini sebagai suami sekaligus kepala keluarga, sekaligus juga calon ayah dari anak anak kita, juga makin banyak, gak terbatas hanya memastikan nafkah untukmu cukup, tapi juga memastikan dirimu bahagia, berkecukupan, dan nyaman, terlebih ada juga kewajiban penting untuk membimbingmu, dalam kehidupan, dalam ibadah dan agama, serta banyak hal lainnya. Semua terasa berat memang, dan aku bukan orang yang pandai dan sempurna untuk melakukan itu sendiri, tapi pelan pelan aku yakin selama kita berada di jalan yang benar bagi kita, Insya Allah kita pasti bisa melakukannya bersama, just like our good old days, hehe.
Istriku, dibalik semua perjalanan kita yang terlihat indah diluar sana, di benak mereka yang gak tahu susah payahnya kita mempertahankan hubungan ini, tersimpan juga perjuangan kita berdua. hubungan ini bisa bertahan karena usaha yang tak kenal lelah dari kita berdua untuk membuang ego, saling berkompromi dengan keegoisan masing masing. Lebih lebih bagi dirimu yang mesti berhadapan dengan laki laki egois, keras, dan kaku seperti aku ini, aku tahu itu gak mudah bagimu yang terbiasa hidup damai sebelumnya, aku yang tiba tiba datang di hidupmu dan kemudian menjadi seenaknya sendiri, karena merasa kamu milikku seorang saja, padahal nggak, kamu juga punya hak untuk melakukan apapun semaumu, termasuk dengan keluargamu, dulu aku terkadang merasa terlalu mencampuri itu semua, aku minta maaf. Sekarang pun sebagai suami, yang gampang lelah ini, dengan tangan lemahku, dan tenaga yang gak cukup kuat untuk menggendongmu, pastinya selalu merepotkanmu setiap saat, dengan kesibukan di pekerjaan yang kadang membuatku meninggalkanmu, bahkan hingga 15 hari di rumah sendiri, dari semua kekhilafan dan kesalahan kesalahanku selama 2 tahun ini, aku minta maaf. Terbukti aku masih perlu banyak belajar, perlu banyak penyesuaian dari kebiasaan sebelum menikah, aku janji akan berusaha jadi lebih baik lagi ke depannya. Tapi, sekali lagi dari kesekian kalinya, tolong terus bantu aku dengan mengingatkanku ya? 🙏
Istriku, aku berharap pertemuan itu segera terwujud, aku gak sabar melihat senyummu, pipi tembem itu, membelai rambutmu dan duduk berdua mengobrol tanpa jarak yang memisahkan kita dan banyak waktu untuk kita habiskan berdua.
Dan mungkin aku belum mengumumkannya secara resmi pada netizen, tapi beberapa teman dan orang di kantor ku disini sudah tahu seharusnya, gak lama lagi Insya Allah bertambah satu orang anggota keluarga kita! Alhamdulillah 🙏🙏 banyak banyak bersyukur akhirnya diberi Allah kepercayaan untuk menjadi calon orang tua, terlebih jika melihat hampir 2 tahun kita berjuang dalam kesedihan, insecure, setiap usaha dan doa itu akhirnya terkabul juga. Bisa dibilang setelah 2019 yang ceria dan bahagia, kita dihajar di 2020 melalui pandemi ini, pun di 2021 kita sempat penuh kekhawatiran dan hanya bisa saling menguatkan satu sama lain. Dan akhirnya perjuangan kita terbayar kini, Alhamdulillah. Usaha kita masih panjang untuk calon baby kita ini, masih ada bulan bulan ke depan, aku berdoa dirimu dan bayi kita sehat selalu, gak sabar untuk bisa melihat dan menggendong bayi kita, tapi untuk sekarang, yang terpenting adalah kesehatan dirimu dan dia, itu yang mahal harganya dan sedang kupersiapkan dengan baik meskipun terhalang jarak.
Istriku, aku gak mau berbicara panjang lebar soal jarak ini, lagipula aku yakin kita kuat menjalaninya, aku lebih tertarik berbicara mengenai perjalanan yang sudah kita lalui 2 tahun ini. Banyak tempat baru yang kita kunjungi, dirimu yang baru kali ini merasakan perjalanan jauh, dan berada jauh dari rumah dan kota kelahiranmu. Aku minta maaf ya dirimu jadi harus mendampingiku sampai kesini, sebuah pilihan yang gak mudah bagimu untuk meninggalkan orangtua mu demi baktimu padaku, seperti halnya aku yang bekerja disini demi bakti pada negeri -yang kini kurasakan mulai menjadi omong kosong akibat ulah mereka yang mempunyai wewenang- aku tahu itu berat berada jauh dari keluarga, karenanya sekali lagi aku minta maaf. Tapi dibalik itu, semoga suasana baru dan tempat tempat baru yang telah kita kunjungi selama ini, sedikit menghiburmu, momen momen itu masih terekam di folder foto kita, biasanya aku lihat lagi ketika bosan, sambil tersenyum, mengingat momen indah kita di tempat itu.
Ah aku rindu honeymoon lagi, setelah pandemi ini berakhir dan baby kita sudah cukup kuat, yuk kita jalan jalan lagi, aku pingin sejak kecil anak kita bisa merasakan bahagia dari momen momen perjalanan, sebagaimana kita yang selalu menikmati itu berdua selama ini, perjalanan juga satu hal yang ku pelajari selama disini, bahwa rindu itu akan selalu bermuara pada satu tempat, ujung dari jarak yang memisahkan, dan perjalanan adalah sayap kita untuk mencapai muara itu.
Well, terlalu banyak jadinya kalau berandai andai seperti itu.
Istriku, aku gak akan berhenti untuk berdoa yang terbaik bagi kita berdua. semoga hubungan ini senantiasa terjaga dan diberikan keberkahan oleh Allah SWT, selalu penuh cinta dan kasih sayang yang gak akan habis, tapi terus tumbuh dan berganti menjadi lebih dan lebih baik lagi setiap saat. Semoga kita diberi izin olehNya untuk terus menjalani hubungan ini bersama, dan semoga kita berdua diberi kekuatan untuk saling menjaga dan mendampingi satu sama lain. Aamiin 🙏
Terakhir, dari tulisanku yang mulai kepanjangan ini, selamat ulang tahun pernikahan yang kedua 😊 yang meskipun sederhana sekali, berbeda dari sebelumnya, namun penuh makna untuk kita renungkan berdua, ini baru awal untuk pernikahan kita, ibaratnya kita sebagai bayi yang baru mau belajar berjalan, banyak hal lagi yang masih perlu kita pelajari, banyak tantangan yang belum kita hadapi, tapi aku percaya kita kuat, modal kita adalah hubungan ini yang sudah terjalin lama, dan pengalaman kita menjalani suka duka selama ini. Semoga kita mampu dan kuat menjalaninya, aamiin 🙏
"I hate myself when I'm away from you
I swear I'm sorry, please don't hate me too
And I don't know if my heart will make it through
I swear I'm sorry, please don't hate me too
Don't hate me, don't fail now
Hold on to hope
'Cause I'm yours, I'm coming home to you soon
'Cause the road is very worn, and it's begging me to come back to you"
(Secondhand Serenade - Distance)
I love you and I miss you to the most right now, see you soon, my wife ❤️