Hai..
haha udah cukup lama sejak postingan terakhir, sebelum liburan..
yah, bentar lagi mau UAS, dan sebelum UAS ini boleh kan ya galau dikit, istilahnya melepas penat-penat dulu terus dilanjut serius dan fokus sama UAS
sedikit alasan aja kenapa aku tiba-tiba pingin nulis lgi, dan alasannya adalah gak ada, hanya karena suntuk dan sendiri aja makanya aku punya inspirasi. seperti itu selma ini haha
buat yang gak biasa sendirian, silahkan ketawa, buat yang merasa banyak teman silahkan deh anggap postinganku ini lelucon atau apa, karena kalian sebenarnya lebih beruntung dari aku dan selama ini kalian hanya lewat begitu saja tanpa peduli jika disekitar kalian ada orang-orang introvert yang secara refleks berusaha kalian hindari :)
pendek kata, lu siapa sih fik? sok sok an ngeblog, sok sok an galau
yang masih bilang ku galau, kalian itu bukan teman deketku, jadi mending diam :)
teman deketku pasti tau kalau aku sekarang gak lagi galau seperti dulu, aku hanya kesepian, dan wajar kalau ketika kesepian seseorang terkadang ingin berbagi apa yang mereka rasa dengan orang-orang lain sekedar untuk membuang sepi, atau setidaknya berbagi kesepian itu terlepas apakah orang lain peduli atau tidak
seperti aku, blog ku dibaca atau tidak, dihina atau dibuat lelucon, aku cuma bisa senyum kecil aja, ya karena baru punya niatan mau protes juga, dalam hati kecil gua udah bilang, lu siapa sih fik? pake protes segala sama keadaan? lu kan minoritas, LOL
haha udah deh, sekarang aku mau cerita tentang kisah ku beberapa waktu setelah vakum ini..
hmm dari mana yah,....
mungkin aku udah sempat cerita ya di postingan sebelumnya tentang karma dan sebagainya itu, yang jadi alasan kenapa aku sekarang seperti ini..
yah, semua itu memang ada kaitannya, tapi semua jelas berawal dari diriku sendiri, baik kesalahan yang aku perbuat, maupun bagaimana sifat dasar yang aku miliki sejak kecil
yaitu pemalu, gak tegaan, gak bisa tegas dan yang paling parah yaitu terlalu peka
haha bayanginsemua kombinasi mengerikan itu dimiliki oleh orang yang dalam dirinya itu punya niatan berteman dengan banyak orang, dan selalu jadi spectator alias senang mengamati pergerakan orang-orang disekitar
kebayang kan maksudku kayak gimana?
jadi aku tipe orang yang gak bisa memulai buat beradaptasi langsung dengan lingkungan baru lebih dulu, tetapi ketika semua udah mempunyai kelompok sendiri-sendiri, aku yang udah dari awal tersisih selalu mempunyai niatan untuk bergabung, tapi komunitas yang aku inginkan selalu mempunyai semacam filter untuk orang-orang seperti aku
itulah alasan aku sedikit teman, terlebihlagi secara penampilan aku gak menarik, jadi lebih banyak berkutat di kesendirian aja selama ini
paling parah adalah ketika aku SMP, waktu itu aku super cupu, minder dan sedikit anti sosial.
emang sih aku masih punya beberapa teman, dan satu orang sahabat, tapi diluar itu semua aku benar-benar sendiri, total..
maka ketika aku dan sahabat ku berpisah kelas, aku seperti "a super anti sosial nerd"
teman gak ada, gak bisa adaptasi dan beberapa teman di kelas justru membully aku, ah kalau ingat masa-masa itu haha suram
terkadang aku sering sembunyi di kamar mandi, hanya untuk menghabiskan waktu sendirian dan sepi selama jam istirahat, karena aku malas terlihat sendiri di kelas, dan aku tak seberuntung mantan teman-teman sekelasku yang udah punya kelompok atau komunitas masing-masing
dan aku lebih banyak diam, berusaha menarik perhatian kalau bersamateman-teman, dan mereka hanya akan tertawa dan bilang kalau aku aneh. haha gak masalah dibilang aneh, asal ada reaksi dari mereka yangsedang berada di dekatku, sekedar memastikan bahwa diriku dianggap oleh mereka
yap, se parah itulah pemikiranku di masa SMP
dan semua itu mulai berubah di masa SMA, disaat aku masuk kelas XI, aku mendapat teman-teman baru yang mau menerima aku -meski mereka sendiri juga awalnya segan karena mengira aku orang yang sangat tertutup- dan aku berusaha beradaptasi dengan mereka, tak butuh banyak waktu hingga aku diterima di komuitas mereka,meski terksean sebagai beberapa kumpulan anak yang sedikit nakal, tapi itu tak masalah, lebih baik daripada lagi-lagi hanya menjadi anak baik yang tak punya teman
dan disitulah mulai muncul masalah, dan dari siapa lagi selain pacar, sebuah hal yang (bagiku saat itu) tidak bisa dijadikan satu dengan teman-temanku.
kenapa aku berpikir demikian? ya karena setiap aku mencoba menggabungkan mereka dalam satu event buat bisa berjalan sama-sama, selalu ada halangan baik dari lingkungan, penolakan dari beberapa temanku, sikap egois dari pacarku dan tentunya dari diriku sendiri yang pemalu
ya, malu untuk berpacaran di depan teman-temanku, malu buat terlihat membuat dunia sendiri bersama pacarku tanpa peduli lagi pada teman-temanku,dan tentunya malu karena diriku sendiri yang gak PD buat tampil di depan umum bersama pacarku
namun sayang sekali pacarku gak mengerti hal ini, dan justru kecewa karena menganggap aku malu dengan kekurangan yang dia miliki, dan merasa iri dengan teman-temannya yang PD ketika keluar bersama cowok atau ceweknya, yang terkadang aku merasa mereka terlalu memamerkan kemesraan di muka umum, apa aku harus seperti itu? apa aku harus mengabaikan temanku dan dengan santainya bermesraan dengannya di muka umum?
bagiku itu sebuah hal yang memalukan, dan aku takut itu membuat teman-temanku merasa risih atau segan untuk berteman denganku, terlalu ketakutan untuk kehilangan eksistensi pada komunitas yang aku miliki daripada kehilangan sebuah hubungan yang mengekang
dan itulah sejujurnya bebanku selama berpacaran lama dengan mantanku di SMA, tapi terlanjur lama dan berjalan berlarut-larut hingga membuatku nyaman dan lupa bahwa dia bisa meninggalkanku kapan saja
dan ketika mimpi buruk itu terjadi, terjadinya pun disaat yang tidak tepat, disaat aku di ligkungan yang benar-benar baru, teman-teman di komunitas yang baru dan baru awal perkuliahan pula
tiba-tiba dia pergi, aku shock tetapi gak punya teman dekat untuk berbagi kesedihan, gak ada yang peduli dan ketika aku mencoba menulis keluh kesah ku di blog, senior ku tahu dan seperti whistle blower, semua orang di sekitarku langsung saja memberi "sign" anak galauan pada ku, dan mungkin itulah alasan sampai sekarang aku masih saja susah beradaptasi disini
thanks to mantanku itu, aku menggalauinya hingga hampir 2 tahun, sampai aku tersadar ketika ibu ku tiada, yap terima kasih
aku sebenarnya sudah mencoba memulai sebuah kisah baru, berusaha membuang bayangan dia selama itu, dan berusaha membuka hati untuk orang-orang yang sekiranya bisa menyelamatkanku dari neraka yang bernama kesepian, namun satu-persatu gebetanku pergi, mereka menyerah bahkan sebelum berusaha untuk mencoba, karena mereka merasa aku hanya php, susah move on ataupun karena alasan lainnya. bagiku itu sebenarnya bukan masalah, tapi terkadang sakit juga karena orang-orang itu merasa tersakiti, membenciku tanpa tahu aku sebenarnya gak ada niatan buat menyakiti mereka, tapi semata hanya karena keadaan, kurangnya kesabaran dan karena mereka benar-benar tidak bisa memahami aku
oke aku egois karena hanya ingin dipahami, tapi keegoisanku berdasar, karena rasa tidak percaya ku akibat pengalaman-pengalaman buruk di masa lalu selama bersama mantanku
dan karena tidak menemui seseorang yang cocok itu, aku hanya bisa kembali berbagi suka duka dengan mantanku tadi, mengusir sepi, terlihat mesra di medsos padahal tanpa hubungan.
ya, aku hanya rindu mempunyai hubungan yang berjalan normal seperti 2 tahun awal pacaranku dengan mantanku ini, dan aku iri dengan teman-temanku yang lain yang terlihat bahagia dengan hubungan yang mereka jalani
karena itulah aku merasa PD begitu aja karena mengira mantanku tadi bisa berubah jadi lebih baik, namun sayangnya akhirnya banyak sekali fakta-fakta buruk tentangnya yang mulai terungkap, dan membuatku merasa perlu mejauhinya demi kebaikanku
Sebuah blog tentang kemarahan, kesedihan, curahan hati, dan kebahagiaan dari diriku.. Karena segala hal yang aku rasakan, akan menguap begitu saja tanpa ada goresan tinta untuk tulisanku. Dan segala hal yang telah jadi kenangan, akan terlupakan jika tak ku simpan sebagai arsip pada note ku. Jadi inilah note ku. Sebuah blog tentang cinta, motivasi, perjalanan dan pengalaman hidup.. Instagram: Fikrimarhen
cover
Jumat, 20 Oktober 2017
Senin, 22 Juni 2015
Karma
Hai semua, akhirnya blog yang udah usang ini sukses aku re-make kemarin..
haha, ya gak ada yang beda-beda sih sebenarnya, cuma karena ini sekarang blog netral, maka aku hapus semua yang berkaitan dengan masa lalu ku, biar adil :)
yah, bisa dikatakan saat ini aku berbicara hanya dari sudut pandangku, tanpa adanya rasa khawatir itu bakal nyinggung mantan atau siapapun, just a word from my brain, jadi aku open aja sama kritik" yang mau dilontarkan siapapun, silahkan tulis di komentar di bawah :)
yaudah langsung aja ya..
ini sebuah pengakuan yang jujur dari aku dan semoga ini juga bisa jadi pelajaran buat kalian semua
aku cuma pingin menjelaskan bahwa setiap sesuatu yang kalian semua lakukan itu selalu ada balasannya, maka sebelum melakukan sesuatu pastikan kamu tahu resikonya, atau justru udah siap dengan balasannya
dan apa itu yang disebut karma, aku sendiri yang mengalaminya, dan percayalah, mungkin di awalnya kalian semua mengira ini terkesan cemen, seperti "apa sih? cowok kok galauan? cowok kok move on nya susah?" ya karena kalian semua orang-orang yang baik, aku percaya kalian gak bakal ngerasain apa yang aku rasain :)
aku akan mulai cerita dari awal pertama kali aku pacaran, dengan mantan ku yang pertama di SMP, difa..
ya, kala itu aku mulai merasakan jatuh cinta buat pertama kalinya ketika kelas 2 SMP, disaat aku se kelas dengan dirinya, meski cupu dan culun, tapi namanya jatuh cinta pertama kali ya..... indah-indah gimana gitu rasanya wkwk :p dan gak perlu diungkapin aja, cuma bisa memandangin dari jauh aja, ngerasain cinta secara diem-diem aja, aku udah ngerasa bahagia, sebuah hal konyol di masa-masa SMP ku, dan semua itu berlanjut sampai aku beranjak naik ke kelas 3, nah disini aku dan difa mulai berkomunikasi satu sama lkain via aplikasi chatting jadul macam mxit dan friendster (yang kini digantikan sama whatsapp dan facebook), semua berjalan lancar-lancar aja, aku senang bisa memposisikan diriku sebagai teman dekat difa, karena yah dia teman cewek yang paling dekat sama aku di SMP
tapi sebuah kesalahan bodoh aku lakukan, gak bisa menahan rasa cinta, aku malah mengungkapkan rasa cinta ku sama dia, dengan cara gak jelas lagi LOL
mulai dari situ semua terasa semakin bahagia dan sekaligus awkward, aku seorang anak cupu, sering di bully sama teman-teman ku yang berbadan besar di SMP ketika itu, berpacaran dengan difa, anak yang cukup populer di kalangan cowok-cowok SMP, dan yang aku ingat, wajahnya ketika itu manis banget wkwk (kalo sekarang mah udah kaya ibu-ibu LOL :p sorry dif hahaha)
awal pacaran semua terasa normal sih, difa paham aku itu cupu, dan paham aku baru pertama pacaran, sedangkan dia udah ada 2 mantan ketika itu
hal yang sering bikin aku malu adalah aku elalu gelagapan ketika ketemu dia, seringnya kakiku gemetar dan kalo tiba-tiba aja papasan gitu, deg-degnya udah terasa aja, hahaha lebay
yah itu lah cerita cupu ku pasa pacaran sama dia, tapi sayang gak lama sih, cuma 3,5 bulan aja
ya aku paham alasan dia ketika itu, gak perlu karena udah suka sama sahabatku pun aku udah sadar, gak mungkin juga dipaksain hubungan yang berat sebelah, orang-orag di sekitar kami hanya melihat hubungan kami dengan pandangan kasihan, yah kasihan difa cuma pacaran sama orang cupu, cowok nya aja gak pernah nganterin pulang, gak pernah nemenin pacaran di sekolah, dan paling parah, gak pernah tuh keliatan pacaran di sekolah, maka gampang sekali hubungan cupu ini tertiup angin..
inti penting yang aku pelajari dari hubunganku sama difa adalah, bahwa disaat itu lah aku pertama kali merasakan cinta, dan hanya itu yang selama ini aku rasakan sebagai cinta yang murni
aku gak munafik saat berbicara tentang hal ini, faktanya setelah kehilangan dia, alias putus dari difa, aku down banget dan kayak orang yang bertindak bodoh, alih-alih bisa move on dari difa dan bisa menjalani sisa semester akhir sekaligus ujian dengan slow, aku malah jadian lagi, kali ini dengan adik kelas aksel yang bernama belda, dan sampai sekarang, dialah orang termuda yang pernah pacaran sama aku (selama ini mantan ku selalu lebih tua dari aku -.-) gak ada hal yang spesial dari hubungan ku dengan belda yang berjalan kurang lebih 3 bulan kurang, selain mungkin aku jadi lebih bisa memahami gimana itu pacaran, mulai berani pacaran di sekolah,dan mulai bisa lebih dewasa lagi, gak lagi malu atau gemetaran kalau ketemu pacar, tapi yah bisa dibilang dia kala itu gak lebih dari pelarian karena susahnya aku move on dari difa
jahat kan aku? jelas..
tapi belda yang aku tahu ketika itu justru lebih bersikap dewasa, dan menunjukkan kalau dia baik-baik aja, dari semua itulah semua rentetan karma ku berawal, dan ketika itu pula aku mulai merasa menjauh dari arti rasa cinta yang sebenarnya
beranjak ke masa SMA, setelah aku lost contact dengan difa maupun belda, aku memulai masa SMA ku dengan cinlok pada teman sekelas ku di kelas 10, ludy, waktu awal aku suka, itu bukan karena aku sering merhatiin dia, tapi lebih karena aku diberitahu temanku kalau dia suka aku (yang ternyata sudah dikonfirmasi kalau itu cuma salah paham oleh ludy sendiri -.-)
dan berselang 1 minggu lebih setelah itu, aku jadian dengan ludy, di masa awalku SMA yang masih tetep cupu, meskipun udah sedikit banget yang ngebully aku disini
aku pacaran dengan perasaan yang masih ada di difa, setengah belum move on maksudnya, tapi karena aku suka ludy, dan hubungan awalku dengan ludy lancar tanpa gangguan, aku mulai ngerasa nyaman sama dia, padahal setelah tau fakta kalau dia lebih tua dari aku (dan ludy sendiri juga kaget pada awalnya), dan rasa trauma yang masih aku rasain pasca kegagalan ku di masa SMP, akusempat ragu bakal bertahan lama dengan dia, dan berpikir "ah sudahlah dijalani dulu aja, kalau lama ya alhamdulillah, kalau bentar ya gak apa, udah pernah ngerasain sebelumnya.." dan sepertinya ketika itu, karma ku dimulai, aku malah menjalani hubungan super lama hingga hampir 6 tahun!! (kalau kedekatan kami pasca putus dan jadi teman dekat hingga sekarang juga dihitung) aslinya hubungan kami udah resmi berakhir tanggal 23 september 2013 silam
tapi sebelum itu, aku ceritakan dulu gimana hubungan super lama ku dengan ludy
memang aku gak lagi ngerasain rasanya cinta yang murni, tapi inilah hubungan terbaik yang pernah aku jalani, dan perlahan aku berkembang hingga jadi seperti sekarang, dari yang awalnya masih pacaran ala anak SMP hingga udah bisa saling berpikir dewasa dan saling ngerti satu sama lain, aku pernah ngerasa cinta banget sama dia, meski ada beberapa hal yang hilang dari rasa cinta awal yang aku rasakan ke difa, tapi aku gak butuh waktu lama move on dari difa, dan malah dia sendiri yang kena karma setelah di PHP sama sahabatku
aku dan ludy menghabiskan waktu selama itu dengan banyak suka duka, pasang surut hubungan dan sempat putus nyambung juga, tapi rasanya bangga juga udah menjalani hubungan jangka panjang dan bisa saling jaga komitmen, setidaknya sampai hampir 3 tahun
masalah pelik hubungan kami -dan yang akhirnya memicu putusnya kami- ini dimulai ketika aku mulai bisa mempunyai teman cewek, apa sih spesialnya? gak ada, ya hanya teman cewek biasa, tapi sampai baper, aku yang awalnya gak pernah punya temen cewek yang deket selain difa dan sahabat masa kecilku, ruri, mulai ngerasa apa itu baper, dari awalnya cuma kenalan biasa, lama-lama dipancing dikit aja sama temanku itu, aku malah ke GRan dan ujung-ujungnya jadi suka, padahal waktu itu aku udah punya pacar ludy, paling gak ada dua orang lah yang paling parah deketnya sama aku, yaitu hesti dan juwita, mungkin ada beberapa teman dekat di kelas, tapi aku sama sekali gak pernah baper ke mereka, meskipun seringnya membuat konflik di hubunganku dengan ludy
yang paling parah tentunya dengan juwita, karena saat itu di tengah hubungan ku yang kacau, dan kami juga sempat break, datanglah juwita, dan aku malah jadi baper sama dia, sampai akhirnya suka, dan mungkin inilah karma yang aku dapat setelah ngecewain belda, ya, aku di kala itu sempat keluar bareng juwita dan sering sms an kayak orang yang udah deket banget, sempat sih aku mikir waktu itu buat putus aja dari ludy, karena aku merasa udah cukup juga terlalu lama pacaran sama dia, tapi kebimbangan yang ada ditambah akunya yg gak bisa tegas memilih membuat kecewa kedua pihak, aku memilih ludy ketika itu karena berpikir banyak hal, termasuk alasan bahwa aku udah terlanjur dekat dengan ludy dan keluarga nya..
si juwita jelas paling kecewa dengan keputusan ku itu, dan dia juga sempat menemui aku sambil menangis di hadapanku, tapi aku udah terlanjur memilih ketika itu dan mulai harus bersikap tegas, karena aku berharap ludy juga bakal bisa profeional degan menepati janjinya udah melupakan masalah ini
tapi karma berkata lain, ludy yang udah berjanji menepati janji nya untuk gak membahas masalah itu, justru menjadikannya senjata buat seringkali menyudutkan aku ketika timbul suatu masalah, seperti dikit-dikit bilang "iya lah kamu gak mau sama aku, aku kan jelek, gak kayak si juwita"
kalau aku ingat-ingat lagi, sebenarnya cukup lucu juga sih, aku gak pernah suka sama seseorang 100% dari fisik, iya suka tapi kalau pribadinya jelek, bagiku nol besar, dari difa aku suka dia karena selain cantik, pintar, tegas, dia juga baik sama orang lain. aku suka belda karena dia lebih kalem, ramah, tapi juga pintar dan ceria, sedangkan dengan ludy sendiri aku suka dia baru setelah kami menjalani hubungan, ibaratnya dari 0% hingga 100%, tetapi kemudian menurun lagi menjadi 50% ketika bersama juwita, tapi tetap, aku yang salah besar ketika itu, karena ludy hampir gak pernah berbuat salah selama 3 tahun kurang itu (sebelum insidenku dengan juwita) selain hal-hal kecil yang biasanya aku maafin, sedangkan aku, selain masalah kedekatanku dengan 2 orang tadi, aku juga seringkali marah-marah gak jelas, kurang bisa menghargai dia, selalu malu dan menolak tiap diajak pacaran di sekolah. suka seenaknya sendiri keluyuran sama teman-temanku dan masih ada beberapa lain yang aku samar-samar ingatnya
ya, aku yang awalnya polos dan lugu soal cinta, menjelma jadi semi playboy dan bad boy di saat yang bersamaan ketika itu
dan efek dari ulahku ini aku rasakan ketika mulai masuk kuliah dan memasuki tahun ke 4 hubunganku dengan ludy
kesibukan luar biasa ludy di kampusnya membuat waktu ketemuan ku dengan dia menjadi tipis, belum lagi ditambah banyak masalah karena kurangnya waktu kami kumpul berdua seperti dulu, dan tanpa aku sadari, akhir dari hubungan kami ternyata udah tergambar jelas
berawal dari aku yang kesal karena kami jarang ketemu (yang sebenarnya adalah karma karena dulu di SMA aku sering ninggal ludy buat keluyuran sama teman-temanku), dan aku mengancam bakal kuliah diluar kota, tapi hal itu gak digubris oleh ludy hingga aku benar-benar serius buat pindah kuliah di STAN sekarang ini, dan itu malah menimbulkan akhir bagi hubungan kami
dan yang terjadi selanjutnya adalah sebuah rentetan dari karma..
diawalai beberapa hari ketika aku sampai di jakarta, ludy bertanya apa aku kenal dengan kakak kelas bernama cesi
aku jawab nggak, siapa lagi itu pikirku, dan ngapain juga ditanya ke aku, udah tau aku dari dulu gak pernah kenal nama adik kelasa maupun kakak kelas wkwk
ternyata eh ternyata, si cesi ini ternyata suka sama ludy, dan nembak dia, dan ludy yang merasa kami sudah gak ada hubungan karena break, nerima gitu aja dengan awalnya bilang ke cesi sendiri kalo dia cuma pelarian
aneh kalo dipikir bahwa dua-duanya mau pacaran padahal selama ini se parah apapun masalah kami, ludy gak pernah lari begitu aja, dan malah bilang aku gak pacaran lagi sama dia ke si cesi sedangkan ludy sendiri belum lama break sama aku
aku langsung shock ketika itu, apalagi gak lama mereka pasang status jadian, what the hell? wkwk, aku masih ingat kata-kata ku di post yang udah aku hapus dulu "siapa sih orang udah gak sdar diri, gak sadar muka, ngerebut pacar orang?" dan aku minta penjelasan dari ludy yang dijawab dengan jawaban simple, "ya kan kita emang udah putus", padahal disaat itu lah aku merasa sayang banget sama ludy, dan sekaligus rindu karena terpisah jauh dari dia di tanah rantau
tapi nasi udah jadi bubur, dia udah jadi milik orang, aku yang gak terima udah kayak orang kalap aja, mulai dari perang tweet, marah-marah ke ludy, sampai depresi sendiri di kosan karena terus-terusan stalking, dan berujung dengan nulis postingan di blog yang isinya benar benar diluar etika dan kebiasaanku selama ini dalam menulis sehingga kini udah aku hilangkan agar gak "disturbing"
dan ditengah kegalauan yang udah akut banget, aku lagi-lagi bertindak bodoh, seperti ketika ditinggal oleh difa, yaitu jadian lagi dengan cewek satu kampus bernama rizki..
lagi-lagi bernasib sama seperti belda, dan yang membuatku makin terlihat jahat adalah, karena aku pacar pertamanya dan dia juga benar-benar sayang sama aku, hubunganku dengan kiko berlangsung sekitar 4 bulan, dan akhirnya putus karena aku masih belum bisa move on dari ludy
aku msih inget gimana ketika putus dari rizki, gimana terpuruknya dia ketika itu, mirip bange ketika aku putus dari difa, aku seperti lihat diriku sendiri yang kehilangan cinta pertama ketika SMP dulu
dan karma pun terjadi lagi
1 tahun lebih aku ngejar ludy lagi, dan gak dapat-dapat, ketika akhirnya dapat, aku mengetahui fakta menyakitkan yang diungkap sendiri oleh mantan pacarnya, cesi, secara gamblang, dan tenang tanpa rasa bersalah..
akhirnya aku merasakan year of pain, di tahun 2014, dan semakin lengkap derita ku ketika desember di tahun yang sama, ibu ku wafat, sebuah pukulan beruntun yang telak
di tahun yang sama pula, aku di php oleh gebetan ku, di tahun yang sama pula, aku sempat berantem sama sahabatku satu kos karena aku ngecewain teman dia yang dekat denagn aku, dan di tahun yang sama, aku dibohongi oleh ludy
ada banyak kisah di year of pain, beberapa udah pernah aku ungkap di postingan yang udah dihapus dan aku udah gak mau memperpanjangnya
intinya, jangan sepelekan karma
mungkin awalnya terasa manis bagimu, tapi perlahan itu akan memaksa mu membayar apa yang udah kamu perbuat
dan kini, aku yang sekarang, udah kehilangan banyak hal, udah membuang banyak waktu, udah menguras banyak air mata, karena apa? ya karena karma dari perbuatan ku sendiri
aku memang udah 100% move on, dan alhamdulillah berkat bantuan cerita pengakuan dari cesi (yang sampai sekarang aku masih tetap gak percaya) aku berhasil ikhlas
sekarang apa? mau memulai kisah baru?
haha, nggak, aku udah kapok :)
aku cuma pingin memantaskan diri dulu, aku pingin kembali jadi diriku semula, jauh sebelum aku merasakan cinta pertamaku, agar ketika aku bertemu seseorang lagi yang terbaik, aku bisa ngerasain jatuh cinta lagi, berdebar-debar dan gemetar lagi
aku rindu jatuh cinta seperti cinta pertamaku dulu
dan ketika aku mendapatkan seseorang yang setia, dan benar-benar menerimaku apa adanya seperti ludy, polos dan lugu namun penuh cinta yang masih tulus seperti rizki, bijak dan tenang menghadapi perangaiku seperti belda, dan sekaligus tegas dan dewasa seperti difa, aku bisa mempertahankan dia dalam hubungan yang sebenar-benarnya hubungan, hingga berlanjut ke pernikahan dan selamanya tetap bersama
dengan dia yang mencintaiku dan aku cintai :)
sekian
terima kasih sudah membaca
sorry for long post
here a small potato with a hole (o)
see you again in the next posting :)
haha, ya gak ada yang beda-beda sih sebenarnya, cuma karena ini sekarang blog netral, maka aku hapus semua yang berkaitan dengan masa lalu ku, biar adil :)
yah, bisa dikatakan saat ini aku berbicara hanya dari sudut pandangku, tanpa adanya rasa khawatir itu bakal nyinggung mantan atau siapapun, just a word from my brain, jadi aku open aja sama kritik" yang mau dilontarkan siapapun, silahkan tulis di komentar di bawah :)
yaudah langsung aja ya..
ini sebuah pengakuan yang jujur dari aku dan semoga ini juga bisa jadi pelajaran buat kalian semua
aku cuma pingin menjelaskan bahwa setiap sesuatu yang kalian semua lakukan itu selalu ada balasannya, maka sebelum melakukan sesuatu pastikan kamu tahu resikonya, atau justru udah siap dengan balasannya
dan apa itu yang disebut karma, aku sendiri yang mengalaminya, dan percayalah, mungkin di awalnya kalian semua mengira ini terkesan cemen, seperti "apa sih? cowok kok galauan? cowok kok move on nya susah?" ya karena kalian semua orang-orang yang baik, aku percaya kalian gak bakal ngerasain apa yang aku rasain :)
aku akan mulai cerita dari awal pertama kali aku pacaran, dengan mantan ku yang pertama di SMP, difa..
ya, kala itu aku mulai merasakan jatuh cinta buat pertama kalinya ketika kelas 2 SMP, disaat aku se kelas dengan dirinya, meski cupu dan culun, tapi namanya jatuh cinta pertama kali ya..... indah-indah gimana gitu rasanya wkwk :p dan gak perlu diungkapin aja, cuma bisa memandangin dari jauh aja, ngerasain cinta secara diem-diem aja, aku udah ngerasa bahagia, sebuah hal konyol di masa-masa SMP ku, dan semua itu berlanjut sampai aku beranjak naik ke kelas 3, nah disini aku dan difa mulai berkomunikasi satu sama lkain via aplikasi chatting jadul macam mxit dan friendster (yang kini digantikan sama whatsapp dan facebook), semua berjalan lancar-lancar aja, aku senang bisa memposisikan diriku sebagai teman dekat difa, karena yah dia teman cewek yang paling dekat sama aku di SMP
tapi sebuah kesalahan bodoh aku lakukan, gak bisa menahan rasa cinta, aku malah mengungkapkan rasa cinta ku sama dia, dengan cara gak jelas lagi LOL
mulai dari situ semua terasa semakin bahagia dan sekaligus awkward, aku seorang anak cupu, sering di bully sama teman-teman ku yang berbadan besar di SMP ketika itu, berpacaran dengan difa, anak yang cukup populer di kalangan cowok-cowok SMP, dan yang aku ingat, wajahnya ketika itu manis banget wkwk (kalo sekarang mah udah kaya ibu-ibu LOL :p sorry dif hahaha)
awal pacaran semua terasa normal sih, difa paham aku itu cupu, dan paham aku baru pertama pacaran, sedangkan dia udah ada 2 mantan ketika itu
hal yang sering bikin aku malu adalah aku elalu gelagapan ketika ketemu dia, seringnya kakiku gemetar dan kalo tiba-tiba aja papasan gitu, deg-degnya udah terasa aja, hahaha lebay
yah itu lah cerita cupu ku pasa pacaran sama dia, tapi sayang gak lama sih, cuma 3,5 bulan aja
ya aku paham alasan dia ketika itu, gak perlu karena udah suka sama sahabatku pun aku udah sadar, gak mungkin juga dipaksain hubungan yang berat sebelah, orang-orag di sekitar kami hanya melihat hubungan kami dengan pandangan kasihan, yah kasihan difa cuma pacaran sama orang cupu, cowok nya aja gak pernah nganterin pulang, gak pernah nemenin pacaran di sekolah, dan paling parah, gak pernah tuh keliatan pacaran di sekolah, maka gampang sekali hubungan cupu ini tertiup angin..
inti penting yang aku pelajari dari hubunganku sama difa adalah, bahwa disaat itu lah aku pertama kali merasakan cinta, dan hanya itu yang selama ini aku rasakan sebagai cinta yang murni
aku gak munafik saat berbicara tentang hal ini, faktanya setelah kehilangan dia, alias putus dari difa, aku down banget dan kayak orang yang bertindak bodoh, alih-alih bisa move on dari difa dan bisa menjalani sisa semester akhir sekaligus ujian dengan slow, aku malah jadian lagi, kali ini dengan adik kelas aksel yang bernama belda, dan sampai sekarang, dialah orang termuda yang pernah pacaran sama aku (selama ini mantan ku selalu lebih tua dari aku -.-) gak ada hal yang spesial dari hubungan ku dengan belda yang berjalan kurang lebih 3 bulan kurang, selain mungkin aku jadi lebih bisa memahami gimana itu pacaran, mulai berani pacaran di sekolah,dan mulai bisa lebih dewasa lagi, gak lagi malu atau gemetaran kalau ketemu pacar, tapi yah bisa dibilang dia kala itu gak lebih dari pelarian karena susahnya aku move on dari difa
jahat kan aku? jelas..
tapi belda yang aku tahu ketika itu justru lebih bersikap dewasa, dan menunjukkan kalau dia baik-baik aja, dari semua itulah semua rentetan karma ku berawal, dan ketika itu pula aku mulai merasa menjauh dari arti rasa cinta yang sebenarnya
beranjak ke masa SMA, setelah aku lost contact dengan difa maupun belda, aku memulai masa SMA ku dengan cinlok pada teman sekelas ku di kelas 10, ludy, waktu awal aku suka, itu bukan karena aku sering merhatiin dia, tapi lebih karena aku diberitahu temanku kalau dia suka aku (yang ternyata sudah dikonfirmasi kalau itu cuma salah paham oleh ludy sendiri -.-)
dan berselang 1 minggu lebih setelah itu, aku jadian dengan ludy, di masa awalku SMA yang masih tetep cupu, meskipun udah sedikit banget yang ngebully aku disini
aku pacaran dengan perasaan yang masih ada di difa, setengah belum move on maksudnya, tapi karena aku suka ludy, dan hubungan awalku dengan ludy lancar tanpa gangguan, aku mulai ngerasa nyaman sama dia, padahal setelah tau fakta kalau dia lebih tua dari aku (dan ludy sendiri juga kaget pada awalnya), dan rasa trauma yang masih aku rasain pasca kegagalan ku di masa SMP, akusempat ragu bakal bertahan lama dengan dia, dan berpikir "ah sudahlah dijalani dulu aja, kalau lama ya alhamdulillah, kalau bentar ya gak apa, udah pernah ngerasain sebelumnya.." dan sepertinya ketika itu, karma ku dimulai, aku malah menjalani hubungan super lama hingga hampir 6 tahun!! (kalau kedekatan kami pasca putus dan jadi teman dekat hingga sekarang juga dihitung) aslinya hubungan kami udah resmi berakhir tanggal 23 september 2013 silam
tapi sebelum itu, aku ceritakan dulu gimana hubungan super lama ku dengan ludy
memang aku gak lagi ngerasain rasanya cinta yang murni, tapi inilah hubungan terbaik yang pernah aku jalani, dan perlahan aku berkembang hingga jadi seperti sekarang, dari yang awalnya masih pacaran ala anak SMP hingga udah bisa saling berpikir dewasa dan saling ngerti satu sama lain, aku pernah ngerasa cinta banget sama dia, meski ada beberapa hal yang hilang dari rasa cinta awal yang aku rasakan ke difa, tapi aku gak butuh waktu lama move on dari difa, dan malah dia sendiri yang kena karma setelah di PHP sama sahabatku
aku dan ludy menghabiskan waktu selama itu dengan banyak suka duka, pasang surut hubungan dan sempat putus nyambung juga, tapi rasanya bangga juga udah menjalani hubungan jangka panjang dan bisa saling jaga komitmen, setidaknya sampai hampir 3 tahun
masalah pelik hubungan kami -dan yang akhirnya memicu putusnya kami- ini dimulai ketika aku mulai bisa mempunyai teman cewek, apa sih spesialnya? gak ada, ya hanya teman cewek biasa, tapi sampai baper, aku yang awalnya gak pernah punya temen cewek yang deket selain difa dan sahabat masa kecilku, ruri, mulai ngerasa apa itu baper, dari awalnya cuma kenalan biasa, lama-lama dipancing dikit aja sama temanku itu, aku malah ke GRan dan ujung-ujungnya jadi suka, padahal waktu itu aku udah punya pacar ludy, paling gak ada dua orang lah yang paling parah deketnya sama aku, yaitu hesti dan juwita, mungkin ada beberapa teman dekat di kelas, tapi aku sama sekali gak pernah baper ke mereka, meskipun seringnya membuat konflik di hubunganku dengan ludy
yang paling parah tentunya dengan juwita, karena saat itu di tengah hubungan ku yang kacau, dan kami juga sempat break, datanglah juwita, dan aku malah jadi baper sama dia, sampai akhirnya suka, dan mungkin inilah karma yang aku dapat setelah ngecewain belda, ya, aku di kala itu sempat keluar bareng juwita dan sering sms an kayak orang yang udah deket banget, sempat sih aku mikir waktu itu buat putus aja dari ludy, karena aku merasa udah cukup juga terlalu lama pacaran sama dia, tapi kebimbangan yang ada ditambah akunya yg gak bisa tegas memilih membuat kecewa kedua pihak, aku memilih ludy ketika itu karena berpikir banyak hal, termasuk alasan bahwa aku udah terlanjur dekat dengan ludy dan keluarga nya..
si juwita jelas paling kecewa dengan keputusan ku itu, dan dia juga sempat menemui aku sambil menangis di hadapanku, tapi aku udah terlanjur memilih ketika itu dan mulai harus bersikap tegas, karena aku berharap ludy juga bakal bisa profeional degan menepati janjinya udah melupakan masalah ini
tapi karma berkata lain, ludy yang udah berjanji menepati janji nya untuk gak membahas masalah itu, justru menjadikannya senjata buat seringkali menyudutkan aku ketika timbul suatu masalah, seperti dikit-dikit bilang "iya lah kamu gak mau sama aku, aku kan jelek, gak kayak si juwita"
kalau aku ingat-ingat lagi, sebenarnya cukup lucu juga sih, aku gak pernah suka sama seseorang 100% dari fisik, iya suka tapi kalau pribadinya jelek, bagiku nol besar, dari difa aku suka dia karena selain cantik, pintar, tegas, dia juga baik sama orang lain. aku suka belda karena dia lebih kalem, ramah, tapi juga pintar dan ceria, sedangkan dengan ludy sendiri aku suka dia baru setelah kami menjalani hubungan, ibaratnya dari 0% hingga 100%, tetapi kemudian menurun lagi menjadi 50% ketika bersama juwita, tapi tetap, aku yang salah besar ketika itu, karena ludy hampir gak pernah berbuat salah selama 3 tahun kurang itu (sebelum insidenku dengan juwita) selain hal-hal kecil yang biasanya aku maafin, sedangkan aku, selain masalah kedekatanku dengan 2 orang tadi, aku juga seringkali marah-marah gak jelas, kurang bisa menghargai dia, selalu malu dan menolak tiap diajak pacaran di sekolah. suka seenaknya sendiri keluyuran sama teman-temanku dan masih ada beberapa lain yang aku samar-samar ingatnya
ya, aku yang awalnya polos dan lugu soal cinta, menjelma jadi semi playboy dan bad boy di saat yang bersamaan ketika itu
dan efek dari ulahku ini aku rasakan ketika mulai masuk kuliah dan memasuki tahun ke 4 hubunganku dengan ludy
kesibukan luar biasa ludy di kampusnya membuat waktu ketemuan ku dengan dia menjadi tipis, belum lagi ditambah banyak masalah karena kurangnya waktu kami kumpul berdua seperti dulu, dan tanpa aku sadari, akhir dari hubungan kami ternyata udah tergambar jelas
berawal dari aku yang kesal karena kami jarang ketemu (yang sebenarnya adalah karma karena dulu di SMA aku sering ninggal ludy buat keluyuran sama teman-temanku), dan aku mengancam bakal kuliah diluar kota, tapi hal itu gak digubris oleh ludy hingga aku benar-benar serius buat pindah kuliah di STAN sekarang ini, dan itu malah menimbulkan akhir bagi hubungan kami
dan yang terjadi selanjutnya adalah sebuah rentetan dari karma..
diawalai beberapa hari ketika aku sampai di jakarta, ludy bertanya apa aku kenal dengan kakak kelas bernama cesi
aku jawab nggak, siapa lagi itu pikirku, dan ngapain juga ditanya ke aku, udah tau aku dari dulu gak pernah kenal nama adik kelasa maupun kakak kelas wkwk
ternyata eh ternyata, si cesi ini ternyata suka sama ludy, dan nembak dia, dan ludy yang merasa kami sudah gak ada hubungan karena break, nerima gitu aja dengan awalnya bilang ke cesi sendiri kalo dia cuma pelarian
aneh kalo dipikir bahwa dua-duanya mau pacaran padahal selama ini se parah apapun masalah kami, ludy gak pernah lari begitu aja, dan malah bilang aku gak pacaran lagi sama dia ke si cesi sedangkan ludy sendiri belum lama break sama aku
aku langsung shock ketika itu, apalagi gak lama mereka pasang status jadian, what the hell? wkwk, aku masih ingat kata-kata ku di post yang udah aku hapus dulu "siapa sih orang udah gak sdar diri, gak sadar muka, ngerebut pacar orang?" dan aku minta penjelasan dari ludy yang dijawab dengan jawaban simple, "ya kan kita emang udah putus", padahal disaat itu lah aku merasa sayang banget sama ludy, dan sekaligus rindu karena terpisah jauh dari dia di tanah rantau
tapi nasi udah jadi bubur, dia udah jadi milik orang, aku yang gak terima udah kayak orang kalap aja, mulai dari perang tweet, marah-marah ke ludy, sampai depresi sendiri di kosan karena terus-terusan stalking, dan berujung dengan nulis postingan di blog yang isinya benar benar diluar etika dan kebiasaanku selama ini dalam menulis sehingga kini udah aku hilangkan agar gak "disturbing"
dan ditengah kegalauan yang udah akut banget, aku lagi-lagi bertindak bodoh, seperti ketika ditinggal oleh difa, yaitu jadian lagi dengan cewek satu kampus bernama rizki..
lagi-lagi bernasib sama seperti belda, dan yang membuatku makin terlihat jahat adalah, karena aku pacar pertamanya dan dia juga benar-benar sayang sama aku, hubunganku dengan kiko berlangsung sekitar 4 bulan, dan akhirnya putus karena aku masih belum bisa move on dari ludy
aku msih inget gimana ketika putus dari rizki, gimana terpuruknya dia ketika itu, mirip bange ketika aku putus dari difa, aku seperti lihat diriku sendiri yang kehilangan cinta pertama ketika SMP dulu
dan karma pun terjadi lagi
1 tahun lebih aku ngejar ludy lagi, dan gak dapat-dapat, ketika akhirnya dapat, aku mengetahui fakta menyakitkan yang diungkap sendiri oleh mantan pacarnya, cesi, secara gamblang, dan tenang tanpa rasa bersalah..
akhirnya aku merasakan year of pain, di tahun 2014, dan semakin lengkap derita ku ketika desember di tahun yang sama, ibu ku wafat, sebuah pukulan beruntun yang telak
di tahun yang sama pula, aku di php oleh gebetan ku, di tahun yang sama pula, aku sempat berantem sama sahabatku satu kos karena aku ngecewain teman dia yang dekat denagn aku, dan di tahun yang sama, aku dibohongi oleh ludy
ada banyak kisah di year of pain, beberapa udah pernah aku ungkap di postingan yang udah dihapus dan aku udah gak mau memperpanjangnya
intinya, jangan sepelekan karma
mungkin awalnya terasa manis bagimu, tapi perlahan itu akan memaksa mu membayar apa yang udah kamu perbuat
dan kini, aku yang sekarang, udah kehilangan banyak hal, udah membuang banyak waktu, udah menguras banyak air mata, karena apa? ya karena karma dari perbuatan ku sendiri
aku memang udah 100% move on, dan alhamdulillah berkat bantuan cerita pengakuan dari cesi (yang sampai sekarang aku masih tetap gak percaya) aku berhasil ikhlas
sekarang apa? mau memulai kisah baru?
haha, nggak, aku udah kapok :)
aku cuma pingin memantaskan diri dulu, aku pingin kembali jadi diriku semula, jauh sebelum aku merasakan cinta pertamaku, agar ketika aku bertemu seseorang lagi yang terbaik, aku bisa ngerasain jatuh cinta lagi, berdebar-debar dan gemetar lagi
aku rindu jatuh cinta seperti cinta pertamaku dulu
dan ketika aku mendapatkan seseorang yang setia, dan benar-benar menerimaku apa adanya seperti ludy, polos dan lugu namun penuh cinta yang masih tulus seperti rizki, bijak dan tenang menghadapi perangaiku seperti belda, dan sekaligus tegas dan dewasa seperti difa, aku bisa mempertahankan dia dalam hubungan yang sebenar-benarnya hubungan, hingga berlanjut ke pernikahan dan selamanya tetap bersama
dengan dia yang mencintaiku dan aku cintai :)
sekian
terima kasih sudah membaca
sorry for long post
here a small potato with a hole (o)
see you again in the next posting :)
Jumat, 16 Januari 2015
Rocket Rockers - Mimpi Menjadi Sarjana (Lagu Baru 2014)
lagu bagi para anak muda yang ingin meraih mimpinya,,
Senin, 01 Desember 2014
Apa Allah mencintaiku?
APAKAH ALLAH MENCINTAIKU ?
Pertanyaan yang merayuku untuk intropeksi..
Kucoba membuka al-Qur'an..
Kudapati Allah mencintai orang-orang yang sabar..
Kulihat diriku..
Ah, betapa sedikitnya kesabaranku..
Kudapati Allah mencintai orang-orang yang berjihad..
Ku lihat diriku..
Amat lemah untuk melawan nafsuku..
Kurang kesungguhanku untuk selalu menaati-Nya..
Kudapati Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan)..
Apalagi ini..
Teramat jauh diriku dari derajat ihsan..
Hatiku gundah..
Tak ada tanda pada diriku bahwa Allah mencintaiku..
Kucoba kembali membaca al-Qur'an..
Kudapati Allah mencintai orang-orang yang suka bertaubat..
Aku segera merenung..
Mungkin ayat ini untukku dan yang sepertiku..
Segera lisanku berucap..
Astaghfirullah wa atuubu ilaihi..
Astaghfirullah wa atuubu ilaihi..
semoga ini membuat Allah mencintai diriku..
Ya Rabb..
Ampuni dosaku..
Sorce: Page FB , Mukjizat Sholat dan Doa
Jumat, 21 November 2014
Lembaga, Mahasiswa, dan Capacity Building
Lembaga, Mahasiswa
dan Capacity Building
Hai pembaca sekalian, sudah lama sekali sejak terakhir saya
posting di blog ini. Hampir 2 bulan kali ya. Oke kali ini saya gak akan
mengangkat topik motivasi maupun tentang cerita saya, tapi tentang hal yang
sedang hangat dibicarakan di kampus saya, STAN, yaitu capacity building. Ya..
sekali-kali lah nulis artikel, biar saya gak selalu diremehin sebagai blogger
galau terus..
Oke, pertama akan saya jelasin dulu apa itu capacity building,
capacity building –biasaya disebut juga character building- adalah acara yang
wajib bagi mahasiswa tingkat 1 yang diadakan sekitar pertengahan desember. Acara
luar kampus ini ditujukan untuk membentuk karakter disiplin, hormat dan patuh
peraturan, membentuk mental yang tangguh serta meningkatkan rasa kebersamaan diantara
mahasiswa peserta capacity building. Hal yang lumrah mungkin bagi tiap kampus,
misalnya di kampus lama saya, Politeknik Negeri Malang, dulu pernah diadakan
kegiatan yang hampir serupa di Pusat pelatihan kejuruan Kodim Brawijaya, yang
melatih pun sama-sama dari tentara seperti pada capacity building, bedanya
acara tersebut dilakukan setelah ospek kampus dan durasi nya lebih lama, serta
pelatih yang melatih kami berasal dari tentara biasa, bukan kopassus. Tapi disitulah
saya merasakan banyak hal baik yang saya dapatkan, oke memang berat dan suntuk
1 minggu tanpa handphone, tanpa media apapun, hanya baris-berbaris, pelatihan
fisik, dan banyak latihan mental juga kala itu, tapi efeknya sangat terasa di kampus,
terlihat dari kekompakan kami dengan jurusan-jurusan lain sangat erat, meski
tetap dalam kebanggaan jurusan masing-masing namun kami benar-benar merasa
dekat sebagai satu kampus. Karena sama-sama susah bareng, sama-sama merasa
senasib dan sendirian, sehingga mau tak mau kami harus saling membaur, dan
disitulah akhirnya terbentuk sebuah ikatan yang menyatukan ego masing-masing
dan mengubah dari mental-menatal anak SMA ke mental-mental anak kuliahan.
Capacity building telah diadakan hampir setahun lalu, pada
bulan desember tahun 2013, sebagai rangkaian dari kegiatan setelah ujian tengah
semester, saya dan mahasiswa kampus STAN yang lain mengikuti kegiatan capacity
building yang berlokasi di bumi perkemahan cibubur. Kegiatan secara overall
bagus dan saya cukup antusias mengikutinya, namun masih saya lihat kekurangan
disana-sini karena faktor alam, kondisi geografis, kebersihan dan kurang
sigapnya penyelenggara, oke no offense tentang hal ini, saya tetap salut akan
kehadiran beberapa perwakilan dari lembaga untuk memantau dan tetap stand by
bersama kami selama acara berlangsung. Dan saya akui memang pelatih dari
kopassus sangat ahli dan paham betul bagaimana membentuk mental dan fisik kami.
Yang jadi pertanyaan adalah, setelah acara itu selesai dan kami kembali ke
kampus kami, kenapa efek dari acara itu tidak terlihat?
Dari sisi lembaga, mungkin melihat bahwa perubahan yang
terjadi pada mahasiswa tidak terasa, atau malah tambah buruk, dari grup di
media sosial maupun dengar-dengar dari perbincangan teman-teman, kelakuan
mahasiswa di kampus ali wardhana sana memang memprihatinkan, saling tak sapa
dan apatis, kurang tanggap dan peduli terhadap kebersihan kampus, merokok
seenaknya, tidak hormat pada sekre maupun dosen pengajar, dan banyak hal lain
yang menurut saya memang wajar jika lembaga geram pada mahasiswa yang katanya
adalah calon abdi negara di bidang keuangan. Ini tah mahasiswa sekolah dinas
yang terkenal itu? Seperti inikah kelakuan orang-orang yang telah diseleksi
dari puluhan ribu pendaftar dari seluruh indonesia? Apa pantas berbangga dengan
almamater jika tingkah laku mereka bahkan tidak bisa dicontoh oleh
kampus-kampuslain yang begitu silau akan nama STAN?
pertanyaan kemudian muncul? Apa yang salah dari Capacity Building tahun kemarin sehingga mental yang baik dan teladan dari moral yang mengakar pada diri mahasiswa ini malah semakin berkurang? Malah saya sedikit kritis tentang hal ini, sebenarnya perlukah adanya Capacity Building ini?
pertanyaan kemudian muncul? Apa yang salah dari Capacity Building tahun kemarin sehingga mental yang baik dan teladan dari moral yang mengakar pada diri mahasiswa ini malah semakin berkurang? Malah saya sedikit kritis tentang hal ini, sebenarnya perlukah adanya Capacity Building ini?
Dari sudut pandang saya sebagai mahasiswa kampus Frans Seda,
yang berkilometer jauhnya dari Kampus STAN Bintaro, memang tidak tahu-menahu
apapun tentang kehidupan disana kecuali sedikit saja ketika sekali waktu
berkunjung kesana, dan saya maklumi sangat sulit mengatur ribuan mahasiswa
disana, jadwal dan ruang kelas aja masih semrawut katanya, wajar sebenarnya
jika efek CB masih belum terasa, karena jumlah yang sebanyak itu ditambah
kurangnya pendekatan pada mahasiswa menjadi faktor yang membuat sikap mahasiswa
jadi seenaknya
Di Rawamangun, tiap hari sebelum masuk kuliah kami mengadakan apel, dan selalu menjalankan PUDD (Peraturan Urusan Dinas Dalam) seperti hormat-menghormati dan baris-berbaris setiap saat, meski tidak semua dari kami selalu patuh, namun secara umum kepatuhan di pusdiklat bea dan cukai ini selalu terjaga karena dari angkatan telah ada Kepatuhan Internal (KI) yang sigap menjaga dan tak segan menghukum mahasiswa yang terlambat, tidak ikut apel dan melanggar tata tertib. Sekre di pusdiklat saya akui juga sangat baik, dekat dengan kami dan peduli terhadap kelangsungan perkuliahan kami, terbukti ketika ada yang absen, maupun ada dari kami yang mendapat nilai dibawah standar, maka akan ada perhatian khusus dan diberi dorongan agar bisa mendapat nilai bagus di kesempatan selanjutnya, ini contoh kecil tapi nyata yang ada di kampus frans seda, pelatih di kampus ini sangat berpengalaman dan selalu menjadi teladan kami dalam setiap kata dan perilaku ala militer yang mereka terapkan. Saya juga sudah menghadapi Leadership Training selama hampir 1 semester pada masa awal perkuliahan saya disini, dan efek yang didapatkan dari kegiatan itu terlihat jelas dari diri kami masing-masing dalam satu angkatan.
Kini yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana jika kalian
mahasiswa bintaro ada di sisi kami? Kalian mengeluh tentang diadakannya CB,
karena mengganggu waktu liburan kalian dan menurut kalian percuma, apa ada cara
lain selain itu agar kalian mengerti apa yang diinginkan lembaga? Okelah tidak
semua dari kalian yang bertindak seperti yang saya tuliskan diatas tadi, itu
ulah oknum, tapi kenapa kalian tidak mengingatkan oknum-oknum tersebut? Asal kalian
patuh, asal kalian hormat pada dosen dan sekre, saya rasa tidak ada alasan sama
sekali bagi lembaga untuk mengadakan CB bagi tingkat 2. Ayolah, kita sama-sama
pernah dinamika, kita sama-sama pernah CB, kami malah mengikuti ospek jurusan
kami selama hampir 6 bulan, apa kalian sanggup jika disuruh seperti itu? Malah beberapa
hari ini saya dengar keluhan dari teman saya disini, intinya seperti ini: “kalau
ada gak enaknya aja kita diikutkan, tapi kalau ada acara-acara bagus kita
dianaktirikan dan kurang diakomodasikan hanya karena masalah jarak”
jangan pahami kata-kata diatas karena kami iri atau apa, tapi kami sedikit merasa perlu kritis juga, entah mungkin hanya saya sebagai penulis yang terlalu membesar-besarkan atau dari kami sendiri memang merasa begitu, saya pun secara pribadi membenarkan pepatah bahwa “CB itu manis untuk dikenang, pahit untuk diulang”. Tapi dari yang saya dengar di kampus sana, jika seperti itu, maka perlulah ada CB, perlulah ada hal untuk mengubah mental dan semangat kita yang telah kendur
tapi apa selalu melalui CB?
apa selalu mahasiswa yang salah?
apa semua dari kita sebagai mahasiswa STAN, bersikap seperti yang dikatakan diatas?
saya tak punya kuasa dan hak apapun untuk protes, dan saya pikir itu tidak perlu, no offense to the other people, let’s change ourself..
saya menulis artikel singkat ini dengan tujuan membandingkan ospek saya di kampus lama dulu, ospek jurusan saya, dengan capacity building ini sendiri
dari situ saya tarik kesimpulan kecil bahwa bila ingin CB ini berjalan seperti yang diharapkan lembaga, maka perlu pemahaman dari diri masing-masing dari kita sebagai satu kesatuan mahasiswa STAN, seperti apa mahasiswa itu
kita beda dari kampus-kampus lain, kita beda dari jaman kita SMA, bukan saatnya lagi bagi kita untuk melanggar peraturan, ingat sistem DO di STAN, ingat status kita sebagai calon punggawa keuangan negara, ingat pula bahwa kita termasuk beruntung sekali berkuliah dibayari negara sedangkan teman-teman kita di kampus lain mesti membayar UKM dan uang masuk kuliah hingga ratusan juta demi kesempatan kerja yang belum tentu tercapai, sedangkan kita jika lulus dari sini Insya Allah akan jadi PNS kementerian keuangan
Semoga angkatan 2013 yang
tersisa saat ini bisa lulus 100%, tidak ada lagi yang terkena DO, tidak ada
lagi pelanggaran terhadap aturan kampus, sehingga tidak perlu lagi merasakan CB
dan semoga kebersamaan diantara angkatan kita tetap solid dan terjaga
dan semoga kebersamaan diantara angkatan kita tetap solid dan terjaga
soal kebersamaan kita solid dan bersatu, namun soal diri kita sebagai mahasiswa STAN, kita harus ridgid, kokoh dan kuat bagai pilar yang menopang nama almamater kita sebagai kampus yang disegani di tanah air
semoga artikel ini bermanfaat, no offense pada siapapun, dan saya sebagai
penulis pribadi minta maaf bila ada salah kata..
kebenaran datangnya dari Allah semata, kesalahan datangnya dari saya pribadi..
Nantikan postingan artikel saya selanjutnya, semoga
bermanfaat
Amin,..
Minggu, 20 Juli 2014
Analogi Sepakbola - Pacaran
Kembali lagi ngeblog..
yah, aslinya udah dari kemarin-kemarin sih sejak aku pulang ke Malang, aku begitu ingin ngetik postingan baru buat ngisi blog ku yang udah lama sepi
apalagi ada laptop lama ku buat ngetik, yang keyboardnya gak rusak.
yah, aslinya udah dari kemarin-kemarin sih sejak aku pulang ke Malang, aku begitu ingin ngetik postingan baru buat ngisi blog ku yang udah lama sepi
apalagi ada laptop lama ku buat ngetik, yang keyboardnya gak rusak.
Nah, kali ini aku akan membahas analogi
sepakbola dengan pacaran
well, aneh memang kedengarannya, mana ada hubungan antara pacaran dengan sepakbola?
keduanya jelas merupakan hal yang berbeda, of course
tapi ada beberapa hal yang bisa dianalogikan di sini
well, aneh memang kedengarannya, mana ada hubungan antara pacaran dengan sepakbola?
keduanya jelas merupakan hal yang berbeda, of course
tapi ada beberapa hal yang bisa dianalogikan di sini
Contohnya, pernahkah kalian
membayangkan kenapa ada pemain bola yang begitu loyal dengan sebuah
klub?
kita contohkan saja disini misalnya Fransesco Totti, Javier Zanetti dan berbagai legenda sepakbola lainnya, kenapa mereka bisa bertahan lama di AS Roma maupun Inter Milan, klub mereka?
itu semua karena rasa cinta mereka yang tinggi pada klub
dan mereka takkan tergiur iming-iming gaji tinggi maupun janji juara dari klub yang ingin menggunakan jasanya
mereka akan tetap loyal, dan dicintai tifosi atau supporter karena memang hal itu yang mereka inginkan sebagai seorang pemain sepakbola
kita contohkan saja disini misalnya Fransesco Totti, Javier Zanetti dan berbagai legenda sepakbola lainnya, kenapa mereka bisa bertahan lama di AS Roma maupun Inter Milan, klub mereka?
itu semua karena rasa cinta mereka yang tinggi pada klub
dan mereka takkan tergiur iming-iming gaji tinggi maupun janji juara dari klub yang ingin menggunakan jasanya
mereka akan tetap loyal, dan dicintai tifosi atau supporter karena memang hal itu yang mereka inginkan sebagai seorang pemain sepakbola
Oke, dari sini, mulai bisa kita kaitkan
beberapa hal diatas dengan pacaran
persamaannya adalah, sama-sama ada rasa cinta, sama-sama ada rasa nyaman, dan sama-sama ada rasa loyal atau setia
itu yang terpenting dari sebuah hubungan, baik itu pacaran atau sekedar hubungan profesionalitas macam sepakbola
pacaran tidak membutuhkan janji manis, membelikan ini itu atau waktu-waktu romantic setiap saat, karena kalau seperti itu, pemain sepakbola juga akan cepat pindah klub begitu ada yang menjanjikan tempat utama, atau menjanjikan juara misalnya
tak ada yang bisa dipastikan dari hal seperti itu
oke sekarang kita akan analogi kan pacaran jaman sekarang dengan sepakbola
persamaannya adalah, sama-sama ada rasa cinta, sama-sama ada rasa nyaman, dan sama-sama ada rasa loyal atau setia
itu yang terpenting dari sebuah hubungan, baik itu pacaran atau sekedar hubungan profesionalitas macam sepakbola
pacaran tidak membutuhkan janji manis, membelikan ini itu atau waktu-waktu romantic setiap saat, karena kalau seperti itu, pemain sepakbola juga akan cepat pindah klub begitu ada yang menjanjikan tempat utama, atau menjanjikan juara misalnya
tak ada yang bisa dipastikan dari hal seperti itu
oke sekarang kita akan analogi kan pacaran jaman sekarang dengan sepakbola
Misalkan saja cowok A dan cewek
B
anggap itu sama seperti Klub A dan pemain B
tentu pacaran umumnya seorang cowok hanya butuh 1 orang cewek saja, tidak lebih
karena sepakbola juga hanya membutuhkan 1 orang pemain inti di tiap posisi, misal striker atau kiper
andai bisa lebih, jelas setiap orang ingin punya lebih dari 1 pasangan tiap pacaran
tapi ingat, kelak yang akan dilihat orang-orang dan dijadikan pasangan ya cuma satu orang saja
dan ingat pula bahwa hampir tidak ada orang yang ingin diduakan oleh pasangannya
dalam hal ini, sepakbola pun sama
misalnya kiper, dalam satu pertandingan ya cuma ada 1 kiper, gak lebih
andai pemain sepakbola di lapangan ada 22 atau 33 orang, ya mungkin akan ada 2 atau 3 kiper disana
tapi jelas, hanya satu, ibarat sebuah hubungan, semua itu sama
nah, kembali ke permisalan tadi
misal si cowok A ingin jadian dengan cewek B
itu sama saja seperti sebuah klub yang tengah berburu pemain baru di bursa transfer
entah itu untuk mengganti pemain lama yang sudah pindah klub atau mungkin karena kekurangan pemain di posisi itu, atau mungkin juga karena sang pemain yang diburu memang tengah hot atau jadi buruan klub lain di bursa transfer
nah disini, klub pasti akan memberikan segalanya kan untuk mendapatkan pemain yang dia inginkan
entah itu dengan tawaran yang tinggi pada klub tempat asal pemain tersebut, atau dengan iming-iming gaji tinggi dan kesempatan bermain regular
tentunya semua sesuai budget dan kualitas klub masing-masing
gak akan ada klub rendah, atau kasta divisi bawah misalnya yang sanggup membayar gaji C. Ronaldo yang kabarnya hampir ratusan juta per pekan
banyaknya budget yang ada, jaman sekarang tetap menjadi hal yang menarik
tak jarang ada istilah “cewek matre” atau “cowok tajir”, semua itu realitas
memang uang disini yang sering berperan meskipun gak selalu
uang pun gak selalu mampu membeli sebuah hubungan, di sepakbola atau hubungan pacaran
ada yang suka cowok yang gak kaya atau cewek yang keluarga nya biasa saja, ada..
cinta memang harusnya tidak didasari itu, tapi sepakbola berbeda
itu semua butuh loyalitas yang tinggi dan profesionalisme jika seorang pemain memutuskan tetap bertahan di klub yang dia bela
nah, sekarang kualitas
sebuah klub tentu punya “nama” dan kualitas klub itu yang menentukan sebagus apa pemain yang akan ia miliki
misal real Madrid, tentu saat ini identik dengan los galacticos nya atau CR7 nya yang bergaji mahal
hampir tidak ada klub kasta bawah atau dari negara yang tidak terlalu terkenal yang mampu mendapatkan jasa pemain se terkenal CR7
tidak adil memang, tapi itulah kenyataannya
CR7 jelas tak akan mau berkarir di klub kecil, tidak bermain di liga Champions, dan hanya mampu membayar gaji rendah setiap musimnya
tapi pacaran gak selalu seperti itu, mungkin saja terjadi sebuah hubungan yang berbeda kasta atau status sosial meskipun itu juga kemungkinannya kecil
toh itu juga cuma pacaran, keterlibatan orang tua disini juga belum terlalu tinggi
dalam klub, ada jajaran manajemen dan pelatih
mereka kita ibaratkan komitmen dan perhatian dalam suatu hubungan pacaran
manajemen jelas memberikan janji ketika pemain tersebut pertama kali datang pada sebuah klub, dan juga meminta komitmen sang pemain dalam bentuk tanda tangan kontrak
ini untuk meningkatkan komitmen diantara keduanya, bahwa mereka terikat kontrak, bahwa jika sang pemain memutuskan pergi, akan ada biaya transfer yang diperlukan, dan jika pemain melanggarnya, akan ada hukuman atas pelanggaran tersebut
sedangkan pelatih, adalah orang yang paling dekat dengan sang pemain karena setiap hari mendampingi pemain di lapangan
pelatih tahu kapan pemain tersebut mulai lelah, pelatih tahu karakter pemain, dan pelatihlah yang memutuskan dia di tempatkan di posisi apa
ya, perhatian pelatih penting untuk memotivasi seorang pemain
bahkan tak jarang, saking dekatnya, apabila seorang pelatih tiba-tiba pindah klub atau dipecat, tak jarang pemain pun ikut memutuskan keluar, karena mungkin kecewa dengan keputusan pemecatan tersebut
nah, kedua hal ini penting dalam sebuah hubungan
pertahankan komitmen kedua pasangan dan tunjukkan perhatian anda, maka pasangan anda akan nyaman dan setia atau loyal pada anda
jika komitmen sudah tak bisa dipenuhi dan perhatian pun jarang diberikan, jangan harap sebuah hubungan kuat bertahan
oke, sekarang tifosi dan agen, serta media massa
tifosi atau supporter, anggap saja adalah teman-teman di sekeliling kita, yang bisa mengomentari hubungan kita kapanpun ada hal yang salah disana
di sepakbola sendiri ada beberapa klub yang mempunyai tifosi yang terkenal atau ultras, sebut saja AS Roma, Liverpool atau bahkan Arema Malang dan banyak lainnya
mereka mempunyai peran dalam memutuskan baik tidaknya pemain tersebut untuk di kontrak atau untuk di lepas
kadang apabila pemain yang mereka soroti permainannya kian menurun, tak jarang mereka mendesak manajemen untuk melepas pemain tersebut dan menggantinya
atau mungkin pula karena habit buruknya, dan ketidakloyalannya pada klub
anggap saja itu seperti pernyataan nya yang merendahkan klub atau dia terlihat memakai baju jersey klub rival dan banyak lainnya
pacaran pun ada ‘tifosi’nya, dan mereka turut berperan dalam hubungan
misalnya, teman si B mengeluhkan tingkah laku pacar si B yang sering merokok atau mabuk-mabukan
jelas si B akan membelanya, namun tak bisa memungkiri fakta yang ada bahwa teman-temannya tahu kebiasaan buruk pacar si B
dan ini tergantung tindakan si B itu sendiri, apakah akan membiarkan atau akan memperbaikinya
karena anda pasti tak mau kan, tiap hari pasangan anda disindir atau dihina teman-teman anda sendiri
biasanya akan ada langkah konkret yang akan diambil, entah itu menjauh dari teman atau malah mengancam memutuskan pasangannya apabila dia tidak mau berubah
kemudian agen pemain, dia lah yang berjasa mengenalkan klub pada pemain yang dibutuhkan
dia yang mencari info kualitas dan harga pemain yang akan diburu
seperti mak comblang kali ya di dunia nyata
mereka yang memberi info, menjodohkan, dan apabila berhasil, mereka mendapat reward dari pasangan tersebut
mungkin sekarang sering kita lihat orang-orang seperti ini, yang kadang menawarkan temannya atau malah saudaranya yang cantik atau ganteng, untuk dikenalkan dan mungkin bisa dijadikan gebetan
hal ini sah-sah saja, dan perlu untuk menambah ‘wawasan’ anda mengenai kriteria yang cocok untuk anda
karena tanpa mengenal, takkan timbul rasa sayang :p
selanjutnya media massa, seperti kemajuan teknologi dalam transfer pemain –yang bahkan sekarang ada bursa taruhan pemain mana akan masuk klub mana di luar negeri- hubungan jaman sekarang identik dengan media, entah itu media elektronik, dunia maya atau minimal, memberi tahu teman dekatnya, yang penting ada sebuah komunikasi secara tidak langsung yang menunjukkan, “ini lho pacar baru ku”, atau “aku udah gak lagi sama dia”
seperti misalnya:
“Toni Kroos baru saja menyetujui kepindahannya ke Real Madrid dengan nominal transfer GBP 24 Juta” itu sama saja dengan “Toni Kroos is in a relationship with Real Madrid” di dunia maya (baca: Facebook)
karena kebebasan media saat ini, semakin sulit menutupi sebuah hubungan, setiap orang pasti akan dengan bangga memamerkan pacar baru mereka di Facebook atau sekedar mention di twitter misalnya
bukan hal tabu lagi seperti jaman dahulu
kalau di sepakbola ada harga yang diberikan untuk tiap pemain, di media sosial mereka bagaikan pemain-pemain free transfer yang dengan bebasnya masuk dan keluar dalam sebuah hubungan apabila tidak cocok
nah kalau sudah begini, komitmen, loyalitas maupun perhatian tak akan sama lagi dengan analogi dalam sepakbola
tapi, dari semua analogi diatas, semua kembali ke pribadi masing-masing
mungkin akan ada yang protes, “gak se gampang itu kan memisalkannya?” atau “loyalitas itu bukan sesuatu yang dapat dibeli!” dan lain sebagainya
saya juga tidak memungkiri hal tersebut akan selalu muncul
saya yang tergabung di sebuah grup tifosi di facebook pun juga merasakannya
di Indonesia Ultras Roma, grup facebook saya, saya bisa merasakan kedekatan dengan sesama pendukung klub yang saya sukai sejak kecil, bagaimana mereka berpendapat apabila ada seorang pemain dari klub AS Roma yang dijual, bagaimana ketika ada pemain yang tidak loyal pada klub, atau bagaimana mereka menyikapi ketika seorang pelatih atau tokoh dari klub rival yang menjelek-jelekkan klub kami, itu semua terasa disana, meskipun hanya dalam dunia maya
kita mungkin akan cenderung menghina atau menghujat apabila seseorang tersebut mengkhianati atau menyakiti kita, tapi kita tidak boleh lupa bahwa orang tersebut juga punya hak untuk pergi dari kita
dan itu juga harusnya kita kembalikan lagi pada konteks yang telah saya sebutkan diatas
jika hubungan ingin terus bertahan, masih adakah komitmen? Masih terasakah perhatian? Atau apa yang salah hingga kita ditinggalkan? Apa mungkin orang yang akhirnya mendapatkan pasangan kita tadi itu lebih baik dari kita?
tanyakan itu semua sebelum kita memutuskan pergi atau mencari seseorang yang bisa mengisi kepergiannya
atau tanyakan ketika anda merasa hubungan anda mulai renggang, entah karena jarak atau karena berkurangnya kesetiaan
memang benar seperti pertanyaan diatas, loyalitas adalah hal yang tidak bisa dibeli
tapi ingat bahwa ada prinsip profesionalisme dalam diri masing-masing pribadi
ada harga, ada barang, dalam hubungan bisa dianalogikan ada kualitas, kenyamanan, kasih sayang dan komitmen yang kuat, maka akan ada hubungan
tak akan bisa hubungan dijalankan hanya dengan cara posesif, mencegah ini dan itu, melarang dekat orang ini dan dekat orang itu
karena ketidaknyamanan justru akan membuat anda kehilangan pasangan anda
kalau anda bisa mencegah, anda juga harus bisa menjaga dengan perhatian dan kualitas serta kenyamanan yang anda berikan
kalau anda tidak bisa memberi perhatian, ada untuk pasangan anda setiap saat ia membutuhkan, dan justru lebih mementingkan orang lain dibanding anda, maka jangan salahkan apabila ada orang lain yang lebih menarik yang akhirnya mampu ‘menikung’ pasangan anda
hal ini sama saja apabila ada ketidaksepakatan dalam hal gaji atau tidak ada jaminan akan tetap di posisi inti bagi pemain sepakbola
dan kita sebagai tifosi, harusnya bisa menerima apabila pemain tersebut ingin pergi
sekali lagi bukan karena tak ada loyalitas, atau gampangan, tapi karena sikap profesionalisme dalam diri masing-masing pribadi
karena setiap orang mempunyai hak menjalankan hidupnya
apalagi ini hanya pacaran, yang gak ada ujungnya apabila tidak disudahi dengan pernikahan
buat apa memaksa atau mencegah ini-itu jika dia bukan milik kita sepenuhnya
buat apa berjanji manis atau memberikan ini itu jika kita malah meninggalkannya
think again, kalau pacaran kita sama seperti pemain yang jadi public enemy macam joey barton, marco materazzi atau mungkin luis suarez, ya gak usah pacaran
langsung saja nikah, itu lebih halal dan memungkinkan untuk dilakukan
tapi kalau kita merasa perlu untuk mendekatkan diri terlebih dahulu dan merasa mampu untuk mempertahankan nya hinggan ke pelaminan, kenapa tidak kita lanjutkan?
ingatlah bahwa suatu hubungan itu ada 2 orang di dalamnya
jangan cuma kita sendiri yang kita pikirkan, tapi pasangan kita juga
jangan mengambil keputusan sepihak atau dengan tiba-tiba pergi tanpa alasan, ingat bahwa pasangan kita punya hak untuk kita kabari dan punya hak untuk mempertahankan kita
pacaran perlu ego, tapi hanya 20-30% saja
ego merusak komitmen, dan komitmen yang kosong ibarat menjalani musim di bangku cadangan, tanpa pernah merasakan jadi pemain inti di klub yang kita bela, yang kita cintai
jadilah legenda di klub tersebut, yang dielu-elukan tifosi, yang membuat iri rival kita, yang mampu memberikan prestasi di klub yang ia bawa dan menjadi panutan bagi youth player bahwa loyalitas adalah segalanya
dan kembali lagi di awal, kenapa pacaran dan sepakbola berhubungan, ya karena keduanya sama-sama mempunyai rasa cinta di dalamnya
meskipun dengan cita rasa yang berbeda
ada pula feel, passion dan skill yang dibutuhkan di dalamnya
ada pula masa-masa cedera dan tanpa pengakuan di dalamnya
tapi itu tergantung kita, apa kita akan pensiun dini setelah cedera, menyerah akan keadaan dan membenci apa yang disebut cinta, atau kita akan bangkit, memberikan yang terbaik pada klub yang mau menerima kita dan berjaya
banyak contohnya, sebut saja Andrea Pirlo yang dibuang oleh AC Milan kemudian mampu sukses bersama Juventus
inilah kehidupan, selalu bisa kita analogikan
tinggal bagaimana kita mempelajarinya dengan baik dan mengambil hikmahnya
maaf apabila ada kata yang salah dan menyinggung
saya tidak bermaksud menghina, merendahkan atau menghujat siapapun
karena apa yang saya tulis disini juga berdasar fakta umum, bukan opini pribadi semata
tapi memang saya tulis semua ini berdasar pengalaman saya di masa lalu
semoga bermanfaat
tunggu postingan saya selanjutnya
terima kasih atas telah mengunjungi blog saya :)
anggap itu sama seperti Klub A dan pemain B
tentu pacaran umumnya seorang cowok hanya butuh 1 orang cewek saja, tidak lebih
karena sepakbola juga hanya membutuhkan 1 orang pemain inti di tiap posisi, misal striker atau kiper
andai bisa lebih, jelas setiap orang ingin punya lebih dari 1 pasangan tiap pacaran
tapi ingat, kelak yang akan dilihat orang-orang dan dijadikan pasangan ya cuma satu orang saja
dan ingat pula bahwa hampir tidak ada orang yang ingin diduakan oleh pasangannya
dalam hal ini, sepakbola pun sama
misalnya kiper, dalam satu pertandingan ya cuma ada 1 kiper, gak lebih
andai pemain sepakbola di lapangan ada 22 atau 33 orang, ya mungkin akan ada 2 atau 3 kiper disana
tapi jelas, hanya satu, ibarat sebuah hubungan, semua itu sama
nah, kembali ke permisalan tadi
misal si cowok A ingin jadian dengan cewek B
itu sama saja seperti sebuah klub yang tengah berburu pemain baru di bursa transfer
entah itu untuk mengganti pemain lama yang sudah pindah klub atau mungkin karena kekurangan pemain di posisi itu, atau mungkin juga karena sang pemain yang diburu memang tengah hot atau jadi buruan klub lain di bursa transfer
nah disini, klub pasti akan memberikan segalanya kan untuk mendapatkan pemain yang dia inginkan
entah itu dengan tawaran yang tinggi pada klub tempat asal pemain tersebut, atau dengan iming-iming gaji tinggi dan kesempatan bermain regular
tentunya semua sesuai budget dan kualitas klub masing-masing
gak akan ada klub rendah, atau kasta divisi bawah misalnya yang sanggup membayar gaji C. Ronaldo yang kabarnya hampir ratusan juta per pekan
banyaknya budget yang ada, jaman sekarang tetap menjadi hal yang menarik
tak jarang ada istilah “cewek matre” atau “cowok tajir”, semua itu realitas
memang uang disini yang sering berperan meskipun gak selalu
uang pun gak selalu mampu membeli sebuah hubungan, di sepakbola atau hubungan pacaran
ada yang suka cowok yang gak kaya atau cewek yang keluarga nya biasa saja, ada..
cinta memang harusnya tidak didasari itu, tapi sepakbola berbeda
itu semua butuh loyalitas yang tinggi dan profesionalisme jika seorang pemain memutuskan tetap bertahan di klub yang dia bela
nah, sekarang kualitas
sebuah klub tentu punya “nama” dan kualitas klub itu yang menentukan sebagus apa pemain yang akan ia miliki
misal real Madrid, tentu saat ini identik dengan los galacticos nya atau CR7 nya yang bergaji mahal
hampir tidak ada klub kasta bawah atau dari negara yang tidak terlalu terkenal yang mampu mendapatkan jasa pemain se terkenal CR7
tidak adil memang, tapi itulah kenyataannya
CR7 jelas tak akan mau berkarir di klub kecil, tidak bermain di liga Champions, dan hanya mampu membayar gaji rendah setiap musimnya
tapi pacaran gak selalu seperti itu, mungkin saja terjadi sebuah hubungan yang berbeda kasta atau status sosial meskipun itu juga kemungkinannya kecil
toh itu juga cuma pacaran, keterlibatan orang tua disini juga belum terlalu tinggi
dalam klub, ada jajaran manajemen dan pelatih
mereka kita ibaratkan komitmen dan perhatian dalam suatu hubungan pacaran
manajemen jelas memberikan janji ketika pemain tersebut pertama kali datang pada sebuah klub, dan juga meminta komitmen sang pemain dalam bentuk tanda tangan kontrak
ini untuk meningkatkan komitmen diantara keduanya, bahwa mereka terikat kontrak, bahwa jika sang pemain memutuskan pergi, akan ada biaya transfer yang diperlukan, dan jika pemain melanggarnya, akan ada hukuman atas pelanggaran tersebut
sedangkan pelatih, adalah orang yang paling dekat dengan sang pemain karena setiap hari mendampingi pemain di lapangan
pelatih tahu kapan pemain tersebut mulai lelah, pelatih tahu karakter pemain, dan pelatihlah yang memutuskan dia di tempatkan di posisi apa
ya, perhatian pelatih penting untuk memotivasi seorang pemain
bahkan tak jarang, saking dekatnya, apabila seorang pelatih tiba-tiba pindah klub atau dipecat, tak jarang pemain pun ikut memutuskan keluar, karena mungkin kecewa dengan keputusan pemecatan tersebut
nah, kedua hal ini penting dalam sebuah hubungan
pertahankan komitmen kedua pasangan dan tunjukkan perhatian anda, maka pasangan anda akan nyaman dan setia atau loyal pada anda
jika komitmen sudah tak bisa dipenuhi dan perhatian pun jarang diberikan, jangan harap sebuah hubungan kuat bertahan
oke, sekarang tifosi dan agen, serta media massa
tifosi atau supporter, anggap saja adalah teman-teman di sekeliling kita, yang bisa mengomentari hubungan kita kapanpun ada hal yang salah disana
di sepakbola sendiri ada beberapa klub yang mempunyai tifosi yang terkenal atau ultras, sebut saja AS Roma, Liverpool atau bahkan Arema Malang dan banyak lainnya
mereka mempunyai peran dalam memutuskan baik tidaknya pemain tersebut untuk di kontrak atau untuk di lepas
kadang apabila pemain yang mereka soroti permainannya kian menurun, tak jarang mereka mendesak manajemen untuk melepas pemain tersebut dan menggantinya
atau mungkin pula karena habit buruknya, dan ketidakloyalannya pada klub
anggap saja itu seperti pernyataan nya yang merendahkan klub atau dia terlihat memakai baju jersey klub rival dan banyak lainnya
pacaran pun ada ‘tifosi’nya, dan mereka turut berperan dalam hubungan
misalnya, teman si B mengeluhkan tingkah laku pacar si B yang sering merokok atau mabuk-mabukan
jelas si B akan membelanya, namun tak bisa memungkiri fakta yang ada bahwa teman-temannya tahu kebiasaan buruk pacar si B
dan ini tergantung tindakan si B itu sendiri, apakah akan membiarkan atau akan memperbaikinya
karena anda pasti tak mau kan, tiap hari pasangan anda disindir atau dihina teman-teman anda sendiri
biasanya akan ada langkah konkret yang akan diambil, entah itu menjauh dari teman atau malah mengancam memutuskan pasangannya apabila dia tidak mau berubah
kemudian agen pemain, dia lah yang berjasa mengenalkan klub pada pemain yang dibutuhkan
dia yang mencari info kualitas dan harga pemain yang akan diburu
seperti mak comblang kali ya di dunia nyata
mereka yang memberi info, menjodohkan, dan apabila berhasil, mereka mendapat reward dari pasangan tersebut
mungkin sekarang sering kita lihat orang-orang seperti ini, yang kadang menawarkan temannya atau malah saudaranya yang cantik atau ganteng, untuk dikenalkan dan mungkin bisa dijadikan gebetan
hal ini sah-sah saja, dan perlu untuk menambah ‘wawasan’ anda mengenai kriteria yang cocok untuk anda
karena tanpa mengenal, takkan timbul rasa sayang :p
selanjutnya media massa, seperti kemajuan teknologi dalam transfer pemain –yang bahkan sekarang ada bursa taruhan pemain mana akan masuk klub mana di luar negeri- hubungan jaman sekarang identik dengan media, entah itu media elektronik, dunia maya atau minimal, memberi tahu teman dekatnya, yang penting ada sebuah komunikasi secara tidak langsung yang menunjukkan, “ini lho pacar baru ku”, atau “aku udah gak lagi sama dia”
seperti misalnya:
“Toni Kroos baru saja menyetujui kepindahannya ke Real Madrid dengan nominal transfer GBP 24 Juta” itu sama saja dengan “Toni Kroos is in a relationship with Real Madrid” di dunia maya (baca: Facebook)
karena kebebasan media saat ini, semakin sulit menutupi sebuah hubungan, setiap orang pasti akan dengan bangga memamerkan pacar baru mereka di Facebook atau sekedar mention di twitter misalnya
bukan hal tabu lagi seperti jaman dahulu
kalau di sepakbola ada harga yang diberikan untuk tiap pemain, di media sosial mereka bagaikan pemain-pemain free transfer yang dengan bebasnya masuk dan keluar dalam sebuah hubungan apabila tidak cocok
nah kalau sudah begini, komitmen, loyalitas maupun perhatian tak akan sama lagi dengan analogi dalam sepakbola
tapi, dari semua analogi diatas, semua kembali ke pribadi masing-masing
mungkin akan ada yang protes, “gak se gampang itu kan memisalkannya?” atau “loyalitas itu bukan sesuatu yang dapat dibeli!” dan lain sebagainya
saya juga tidak memungkiri hal tersebut akan selalu muncul
saya yang tergabung di sebuah grup tifosi di facebook pun juga merasakannya
di Indonesia Ultras Roma, grup facebook saya, saya bisa merasakan kedekatan dengan sesama pendukung klub yang saya sukai sejak kecil, bagaimana mereka berpendapat apabila ada seorang pemain dari klub AS Roma yang dijual, bagaimana ketika ada pemain yang tidak loyal pada klub, atau bagaimana mereka menyikapi ketika seorang pelatih atau tokoh dari klub rival yang menjelek-jelekkan klub kami, itu semua terasa disana, meskipun hanya dalam dunia maya
kita mungkin akan cenderung menghina atau menghujat apabila seseorang tersebut mengkhianati atau menyakiti kita, tapi kita tidak boleh lupa bahwa orang tersebut juga punya hak untuk pergi dari kita
dan itu juga harusnya kita kembalikan lagi pada konteks yang telah saya sebutkan diatas
jika hubungan ingin terus bertahan, masih adakah komitmen? Masih terasakah perhatian? Atau apa yang salah hingga kita ditinggalkan? Apa mungkin orang yang akhirnya mendapatkan pasangan kita tadi itu lebih baik dari kita?
tanyakan itu semua sebelum kita memutuskan pergi atau mencari seseorang yang bisa mengisi kepergiannya
atau tanyakan ketika anda merasa hubungan anda mulai renggang, entah karena jarak atau karena berkurangnya kesetiaan
memang benar seperti pertanyaan diatas, loyalitas adalah hal yang tidak bisa dibeli
tapi ingat bahwa ada prinsip profesionalisme dalam diri masing-masing pribadi
ada harga, ada barang, dalam hubungan bisa dianalogikan ada kualitas, kenyamanan, kasih sayang dan komitmen yang kuat, maka akan ada hubungan
tak akan bisa hubungan dijalankan hanya dengan cara posesif, mencegah ini dan itu, melarang dekat orang ini dan dekat orang itu
karena ketidaknyamanan justru akan membuat anda kehilangan pasangan anda
kalau anda bisa mencegah, anda juga harus bisa menjaga dengan perhatian dan kualitas serta kenyamanan yang anda berikan
kalau anda tidak bisa memberi perhatian, ada untuk pasangan anda setiap saat ia membutuhkan, dan justru lebih mementingkan orang lain dibanding anda, maka jangan salahkan apabila ada orang lain yang lebih menarik yang akhirnya mampu ‘menikung’ pasangan anda
hal ini sama saja apabila ada ketidaksepakatan dalam hal gaji atau tidak ada jaminan akan tetap di posisi inti bagi pemain sepakbola
dan kita sebagai tifosi, harusnya bisa menerima apabila pemain tersebut ingin pergi
sekali lagi bukan karena tak ada loyalitas, atau gampangan, tapi karena sikap profesionalisme dalam diri masing-masing pribadi
karena setiap orang mempunyai hak menjalankan hidupnya
apalagi ini hanya pacaran, yang gak ada ujungnya apabila tidak disudahi dengan pernikahan
buat apa memaksa atau mencegah ini-itu jika dia bukan milik kita sepenuhnya
buat apa berjanji manis atau memberikan ini itu jika kita malah meninggalkannya
think again, kalau pacaran kita sama seperti pemain yang jadi public enemy macam joey barton, marco materazzi atau mungkin luis suarez, ya gak usah pacaran
langsung saja nikah, itu lebih halal dan memungkinkan untuk dilakukan
tapi kalau kita merasa perlu untuk mendekatkan diri terlebih dahulu dan merasa mampu untuk mempertahankan nya hinggan ke pelaminan, kenapa tidak kita lanjutkan?
ingatlah bahwa suatu hubungan itu ada 2 orang di dalamnya
jangan cuma kita sendiri yang kita pikirkan, tapi pasangan kita juga
jangan mengambil keputusan sepihak atau dengan tiba-tiba pergi tanpa alasan, ingat bahwa pasangan kita punya hak untuk kita kabari dan punya hak untuk mempertahankan kita
pacaran perlu ego, tapi hanya 20-30% saja
ego merusak komitmen, dan komitmen yang kosong ibarat menjalani musim di bangku cadangan, tanpa pernah merasakan jadi pemain inti di klub yang kita bela, yang kita cintai
jadilah legenda di klub tersebut, yang dielu-elukan tifosi, yang membuat iri rival kita, yang mampu memberikan prestasi di klub yang ia bawa dan menjadi panutan bagi youth player bahwa loyalitas adalah segalanya
dan kembali lagi di awal, kenapa pacaran dan sepakbola berhubungan, ya karena keduanya sama-sama mempunyai rasa cinta di dalamnya
meskipun dengan cita rasa yang berbeda
ada pula feel, passion dan skill yang dibutuhkan di dalamnya
ada pula masa-masa cedera dan tanpa pengakuan di dalamnya
tapi itu tergantung kita, apa kita akan pensiun dini setelah cedera, menyerah akan keadaan dan membenci apa yang disebut cinta, atau kita akan bangkit, memberikan yang terbaik pada klub yang mau menerima kita dan berjaya
banyak contohnya, sebut saja Andrea Pirlo yang dibuang oleh AC Milan kemudian mampu sukses bersama Juventus
inilah kehidupan, selalu bisa kita analogikan
tinggal bagaimana kita mempelajarinya dengan baik dan mengambil hikmahnya
maaf apabila ada kata yang salah dan menyinggung
saya tidak bermaksud menghina, merendahkan atau menghujat siapapun
karena apa yang saya tulis disini juga berdasar fakta umum, bukan opini pribadi semata
tapi memang saya tulis semua ini berdasar pengalaman saya di masa lalu
semoga bermanfaat
tunggu postingan saya selanjutnya
terima kasih atas telah mengunjungi blog saya :)
Langganan:
Postingan (Atom)
Gambar
-->



